Begini Sejarah Tradisi Syawalan di Kaliwungu Kendal Jawa Tengah | LKTNews.com

Begini Sejarah Tradisi Syawalan di Kaliwungu Kendal Jawa Tengah

Sejarah Tradisi Syawalan di Kaliwungu Kendal Jawa Tengah
Suasana Makam KH Asy'ari/Kiai Guru yang didatangi para peziarah. (Foto: Istimewa)

LKTNews.com - Seminggu seusai Idul Fitri, masyarakat Kaliwungu Kabupaten Kendal Jawa Tengah dan sekitarnya akan mengikuti tradisi Syawalan. Tradisi keagamaan yang kental akan kearifan lokal dirayakan dengan berziarah ke makam para wali, ulama, maupun kiai pada hari ketujuh dan kedelapan Lebaran.

Sejarah Syawalan di Kaliwungu Kendal berasal dari sebuah peringatan Haul Alim Ulama Besar Kaliwungu yang bernama KH Asy'ari atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Guru, dengan cara menziarahi makamnya setiap tanggal 8 Syawal tiap tahunnya.

Syawalan adalah salah satu tradisi yang masih hidup hingga kini. Dari berbagai sumber yang dihimpun, syawalan adalah salah satu bentuk penghormatan terhadap makam orang-orang saleh, yaitu dengan cara mengadakan haul atau memperingati ulang tahun meninggalnya ulama atau kiai dengan cara menziarahi makam dan melakukan tahlil serta mengirim doa. Kegiatan haul dalam praktiknya diperuntukkan bagi figur tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakatnya, bukan untuk masyarakat umum.

Haul yang paling besar di Kaliwungu adalah haul KH Asy’ari yang dilaksanakan setiap tanggal 8 Syawal yang kemudian disebut sebagai Syawalan. Syawalan ini adalah sebuah acara komunal yang berlandaskan syariat namun lebih kental dengan nuansa kebudayaannya.

Kondisi ini tidak terlepas dari karakteristik Kecamatan Kaliwungu sebagai Kota Santri yang mengakar dalam kehidupan seluruh lapisan masyarakatnya hingga generasi sekarang.

Pada awalnya Syawalan merupakan bentuk pengabdian seorang santri kepada gurunya yang sudah wafat yang diwujudkan dengan menziarahi makamnya menapaktilas fase sejarah nasab guru-gurunya.

Para santri yang sudah tersebar di berbagai daerah datang bersama sanak saudara dengan penuh keikhlasan untuk mengaktualisasikan eksistensi sifat kesantriannya.

Mochammad Tommy Fadlurohman, salah seorang keturunan dari KH Asy’ari atau Kiai Guru mengatakan, kegiatan haul adalah sebuah tradisi yang belum dapat dipastikan tentang kapan munculnya, karena tradisi disampaikan dan dijalankan secara turun temurun melalui lisan tanpa adanya dokumen yang pasti.

"Tradisi Syawalan di Kaliwungu tidak ada yang bisa memastikan kapan pertama kali muncul, karena tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman dulu dan masyarakat Kaliwungu mengikuti apa yang dilakukan oleh leluhurnya," ujarnya kepada Tim Redaksi.

Pria yang akrab disapa Gus Tommy tersebut merupakan putra dari Hj Nur Fatimah binti KH Mahfudz, bin H Syarbini bin H Syaban bin H Abdul Gohfar, bin KH Muhammad Faqih, bin H Yakub Bin KH Asy’ari atau Kiai Guru.

Dia menjelaskan, haul awalnya merupakan kegiatan ziarah mengirim doa di makam KH Asy'ari yang dilakukan oleh keluarga, santri dan handai tolan saja.

"Namun seiringnya waktu, lama kelamaan diikuti oleh masyarakat muslim di Kaliwungu dan sekitarnya," jelas Gus Tommy.

Diungkapkan, perilaku hormat santri kepada gurunya dalam hal ini yaitu kiai dan ulama muncul karena kiai sangat tulus memberikan ilmunya tanpa waktu yang dibatasi, bukan untuk tuntutan materi semata.

Baca Juga: Warga Kaliwungu Kendal Sambut Ramadhan dengan Tradisi Tukudher

"Hubungan antara kiai dengan santri atau kiai dengan masyarakat umum adalah hubungan sosial yang didasarkan dan diikat pada moralitas keagamaan bukan oleh upah," kata Gus Tommy, yang juga Anggota DPRD Kendal.

Tradisi Syawalan di Kaliwungu Milik Masyarakat

Dalam perkembangannya, tradisi Syawalan tidak hanya mencangkup aspek agama dan budaya, tetapi juga aspek sosial kemasyarakatan. Menurut dia, keberkahan seorang kiai tidak lagi milik santri dan keluarganya, tetapi sudah menjadi milik masyarakat Kaliwungu dan sekitarnya dari berbagai latar belakang kehidupan.

Sebuah ritual komunal yang awalnya bersifat alamiah menjadi upacara massal yang terjadi setiap tahun yang harus ditata secara rapi sebagai bagian dari citra dan potensi daerah.

"Dalam perkembangannya tradisi Syawalan mengalami perubahan dalam pelaksanaan kegiatan seiring dengan perkembangan masyarakatnya. Haul tadinya hanya acara tahlil biasa yang melibatkan kalangan ulama, santri, dan masyarakat sekitar yang datang bersama-sama menuju makam dan melakukan tahlil," papar Gus Tommy.

Selain itu, terdapat penambahan dalam rangkaian acara yaitu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan. Salah satunya pengajian, yang dilaksanakan secara sederhana, dengan menampilkan seorang penceramah, yang lokasinya berada di tempat terbuka.

Dalam perkembangan, kegiatan pengajian dipindahkan ke serambi Masjid Al Muttaqin Kaliwungu dan tidak lagi di komplek makam.

"Selain acara tahlil dan pengajian, juga ada acara sama’an dan khataman Al-Quran. Acara lain yang lebih menarik dan menyedot perhatian masyarakat Kaliwungu adalah acara pembukaan yang dilakukan di halaman Masjid Al Muttaqin Kaliwungu," imbuh Gus Tommy.

Dirinya juga menambahkan, perayaan Syawalan di Kaliwungu tidak lagi sebatas perayaan haul Kiai Guru dengan melakukan tahlil di makam KH Asy'ari saja, melainkan sudah melebar ke makam kiai-kiai lain serta tokoh-tokoh sejarah lain seperti Sunan Katong, Pangeran Mandororejo, Pakuwojo bahkan sampai ke kompleks makam Bupati Kaliwungu.

Baca Juga: Tradisi Weh-Wehan, Ini Cara Warga Kaliwungu Kendal Sambut Maulid Nabi Muhammad SAW

Selain itu pada era modern Syawalan beralih menjadi sebuah pasar malam. Upacara tradisi ini sekarang tidak lagi milik masyarakat Kaliwungu tetapi sudah menjadi milik umum. Bahkan tradisi Syawalan juga menjadi berkah tersendiri para pedagang musiman di sepanjang jalan utama Kaliwungu.

Pedagang yang datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan juga dari Jawa Barat tersebut, menjajal berbagai produk, seperti aneka bunga hias, guci, mainan anak-anak, hingga maianan yang terbuat dari gerabah. (Hanief Sailendra/Halosemarang)

FOLLOW LKTNEWS.COM DI GOOGLE NEWS.

Next Post Previous Post